GAMBARAN UMUM PENYAKIT DISPEPSIA
Menurut Mansjoer, dkk (2000), Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak atau sakit di perut bagian atas yang meneta atau mengalami kekambuhan. Pengetian dispepsia terbagi menjadi dua, yaitu dispepsia organik dan dispepsia nonorganik atau fungsional atau nonulkus (DNU). Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organic sebagi penyebabnya, sedangkan dispepsia nonorganik atau fungsional atau DNU bila tidak jelas penyebabnya. Perbedaan antara dispepsia organik dan dispepsia nonorganik atau fungsional atau nonulkus (DNU) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Diagnosis banding nyeri/ketidaknyaman abdomen atas
Dispepsia Organik | Dispepsia Fungsional |
§ Ulkus peptic kronik (ulkus ventrikuli, ulkus duodeni) | § Disfungsi sensorik-motorik gastroduodenum |
§ Gastro-oesophagael reflux disease | § Gastroparesis idiopatik/hipomotilitas antrum |
§ Obat: OAINS, Aspirin | § Disritma gaster |
§ Kolelitiasis simtomatik | § Hipersensitivitas gaster/duodenum |
§ Pankreatitis kronik | § Faktor psikososial |
§ Gangguan metabolic (uraemia, hiperkalsemia, gastroparesis DM) | § Gastritis H. pylori |
§ Keganasan (gaster, pankeas, kolon) | § Idiopatik |
§ Insufisiensi vaskula mesenterikus | |
§ Nyeri dinding perut |
Etiologi Dispepsia
Menurut Misnadiarly (2009), Beberapa hal yang berpengaruh pada timbulnya dispepsia antara lain pengeluaran asam lambung yang berlebihan, pertahanan dinding lambung yang lemah, infeksi helicobacter pylori (sejenis bakteri yang hidup di dalam lambung, dalam jumlah kecil), gangguan gerakan saluran cerna, serta stress psikologis.
Patofisiologi Dispepsia
Dispepsia atau istilah yang sering dikenal oleh masyarakat sebagai maag atau penyakit lambung juga bias disebabkan oleh keberadaan bakteri yang diidentifikasi sebagai Helicobacter pylori. Bakteri ini hidup di dalam lambung dalam jumlah kecil. Ketika asam lambung yang dihasilkan lebih banyak kemudian pertahanan dinding lambung menjadi lemah, bakteri ini bisa bertambah banyak jumlahnya, apalagi disertai kebersihan makanan yang kurang (Misnadiarly, 2009).
Gejala Klinik dan Laboratorik
Menurut Mansjoer, dkk (2000), klasifikasi klinis didasarkan atas keluhan atau gejala yang dominan, membagi dispepsia menjadi tiga tipe:
1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulcus-like dyspepsia), dengan gejala:
· Nyeri epigastrium teralokalisasi.
· Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid.
· Nyeri saat lapar.
· Nyeri episodik.
2. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspepsia), dengan gejala:
· Mudah kenyang.
· Perut cepat terasa penuh saat makan.
· Mual.
· Muntah.
· Upper abdominal bloating.
· Rasa tak nyaman bertambah saat makan.
3. Dispepsia nonspesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas).
Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja. Apabila tidak ditemukan penyebabnya dokter akan mengobati gejala-gejalanya dengan antasid atau penghambat H2 seperti cimetidine, ranitidine atau famotidine yang berguna untuk menetralisir HCl, mengurangi rasa nyeri.
Pemeriksaan radiologi yaitu, OMD dengan kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan urea breath test (belum tersedia di Indonesia ). Endoskopi merupakan pemeriksaan baku emas, selain sebagai diagnostic sekaligus terapeutik. Pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan endoskopi adalah CLO (rapid uea test), patologi anatomi (PA), Kultur mikroorganisme (MO) jaringan.
Pengobatan dan Perawatan
Menurut Mansjoer (2000), pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, antara lain:
1. Antasid 20 - 150 ml/hari
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Campuran yang biasanya tedapat dalam antasid antara lain Na bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg trisiklat. Pemakaian obat ini sebaiknya jangan dibeikan terus meneus, sifatnya hanya untuk mengurangi rasa nyeri. Mg trisiklat dapat dipakai dalam waktu lebih lama. Juga berkhasiat sebagai adsoben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2.
2. Antikolinergik
Perlu dipehatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan sekresi asam lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memilki efek sitoprotektif.
3. Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organikatau esensial seperti tukak peptik Obat yang termasuk golongan antagonis reseptor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidine, dan famotidin.
4. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)
Sesuai dengan namanya, golongan obat ini mengatur sekesi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang temasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol.
5. Sitoprotektif
Prostaglandin sintetik seperti misoprostol (PGE) dan enprostil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostaglandin endogen, yang selanjutnya mempebaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mucus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA).
6. Golongan prokinetik
Obat yang temasuk golongan prokinetik taitu sisaprid, domperidon, dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan mempebaiki kebersihan asam lambung.
Menurut Misnadiarly (2009), gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola dan mencegah timbulnya gangguan pada lambung, antara lain:
§ Mengatur pola makan.
§ Olah raga teratur.
§ Menghindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi lambung.
§ Hindari mengkonsumsi makanan yang menimbulkan gas di lambung.
§ Hindari minuman dengan kadar caffeine, alcohol, dan kurangi rokok.
§ Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung.
§ Kelola stress psikologi seefisien mungkin.
Diet Pada Penyakit Dispepsia
Jenis dan Tujuan Diet
Tujuan diet untuk penderita Dispepsia adalah untuk Meningkatkan nafsu makan pasien, Memberikan makanan dan cairan secukupnya yang tidak memberatkan lambung serta Mencegah dan menetralkan sekresi asam lambung yang berlebihan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka diet yang diberikan pada penderita Dispepsia adalah Diet Lambung, dengan bentuk makanan lunak dan bubur.
Syarat Diet Lambung
1). Energi cukup sesuai dengan kebutuhan pasien untuk mempertahankan stutus gizinya.
2). Protein cukup, yaitu 15% dari kebutuhan energi total untuk mengganti jaringan yang rusak.
3). Lemak cukup, yaitu 20 % dari kebutuhan energi total sebagai cadangan energi.
4). Karbohidrat cukup, yaitu kebutuhan energi total dikurangi energi yang berasal dari nutrisi parentral.
5). Makanan mudah cerna dan tidak merangsang saluran pencernaan.
6). Makanan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering.
7). Rendah serat terutama serat tidak larut air, agar tidak memberatkan kerja lambung.
Kebutuhan Energi penderita Dispepsia
Kebutuhan energi penderita dispepsia dapat di peroleh dari AMB (Angka Metabolisme Basal), Faktor Penyakit (Injury Faktor), dan faktor aktifitas.
Protein sangat berperan penting dalam tubuh terutama untuk mengganti sel-sel jaringan yang rusak. Protein banyak terkandung pada lauk hewani terutama telur dan nabati terutama tempe. Kebutuhan protein bagi penderita dispepsi adalah 15% dari kebutuhan energy total.
Kebutuhan Lemak penderita Dispepsia
Lemak merupakan salah satu zat gizi yang sangat penting dalam tubuh. Lemak berperan penting dalam pembakaran tubuh dan berperan sebagai cadangan makanan. Kebutuhan protein bagi penderita dispepsi adalah 20% dari kebutuhan energi total.
Kebutuhan Karbohidrat penderita Dispepsia
Karbohidrat berperan sebagai zat tenaga. Zat tenaga sangat penting bagi tubuh, yaitu untuk melakukan segala jenis kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Kebutuhan karbohidrat bagi penderita dispepsi diperoleh dari kebutuhan energi total dikurangi energi yang berasal dari nutrisi parentral.
Pemilihan Bahan dan Jenis Pengolahan
Salah satu syarat diet untuk penderita Dispepsia adalah makanan mudah cerna dan tidak merangsang saluran pencernaan, maka bahan makanan dan jenis pengolahannya harus dipilih sedemikian rupa agar dapat memenuhi persyaratan Bahan makanan yang dianjurkan dan yang dihindari terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Bahan Makanan Yang dianjurkan dan Tidak dianjurkan
Bahan Makanan | Dianjurkan | Tidak Dianjurkan/Dibatasi |
Sumber Karbohidrat | Beras ditim atau dibubur, makanan yang direbus dan dihaluskan. | Beras ketan, ubi, singkong, kue yang terlalu manis dan berlemak. |
Sumber Protein | Daging sapi, hati, ayam digiling, telur yang direbus Tahu, tempe ditim atau dihaluskan. | Daging, ikan, ayan yang diawetkan, telur digoreng atau diceplok. Tahu, tempe, dan kacang-kacangan yang digoreng. |
Sayuran | Sayuran yang tidak banyak serat dan tidak menimbulkan gas, seperti bayam, wortel, tomat. | Sayuran mentah, sayuran berserat tinggi dan menimbulkan gas, seperti daun singkong, kacang panjang, kol, lobak, sawi |
Buah-buahan | Semua buah yang tidak diawetkan atau dalam kaleng. | Buah yang tinggi serat dan dapat menimbulkan gas, seperti jambu biji, nanas, durian, nangka. |
Lemak | Minyak goreng, margarine, dan mentega, santan encer. | Santan kental, lemak hewan. |
Minuman | Sirup, teh. | Minuman yang mengandung soda dan alkohl, serta kopi. |
Bumbu | Bumbu yang tidak merangsang, seperti gula, garam, sereh, jahe | Bumbu yang merangsang, seperti cabai, bawang, merica, cuka. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar